Menu Close

Penyebab Bullying pada Anak yang Harus Diketahui Orang Tua

Penyebab Bullying pada Anak yang Harus Diketahui Orang Tua

Saat ini bullying atau perundungan masih marak terjadi, mulai dari anak-anak dari jenjang prasekolah hingga orang dewasa. Bullying adalah merupakan perilaku menyakiti seseorang baik secara fisik maupun emosional yang dilakukan secara berulang.

Penyebab Bullying

Bullying bisa membuat kesehatan mental korbannya terganggu. Rasa trauma yang mereka rasakan bahkan bisa terasa hingga dewasa. Bukan hanya itu, korban bullying juga bisa merasa depresi, merasakan kecemasan berlebih bahkan hingga hasrat untuk menyakiti diri sendiri dan bunuh diri.

Ada berbagai macam jenis bullying, yaitu:

  • Serangan fisik
  • Mengancam
  • Menggoda
  • Membuat nama panggilan seperti ‘si gendut’, ‘si hitam’ atau ‘si bodoh’
  • Mengecualikan seseorang dari grup, tidak mengundang mereka ke pesta
  • Menyebarkan berita bohong tentang seseorang
  • Merusak properti atau tugas sekolah seseorang

Ada juga bullying yang terjadi melalui media online atau biasa disebut dengan cyberbullying. Bentuk cyberbullying seperti:

  • Mengirim atau memposting pesan bernada menghina
  • Memposting informasi palsu mengenai seseorang
  • Memposting gambar atau video untuk mempermalukan seseorang

Siapapun bisa menjadi korban bullying, bahkan seorang yang rupawan atau pintar sekalipun bisa mengalami perundungan. Namun memang seseorang yang terlihat lemah, lebih sering mengalami penindasan dari orang yang lebih kuat, misalnya seseorang yang:

  • Memiliki kulit gelap
  • Kelebihan berat badan
  • Memiliki perbedaan ras atau agama
  • Disabilitas
  • Status sosial yang berbeda
  • Memiliki nama yang tidak biasa

Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan jika terdapat berbagai macam penyebab yang menjadi faktor terjadinya bullying. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi penyebab bullying.

1. Faktor lingkungan

Anak-anak yang sering melihat adegan kekerasan di depannya bisa menjadi faktor alasan mereka melakukan perundungan terhadap orang lain. Bukan hanya adegan kekerasan dari keluarga atau orang tua, sering menonton tayangan mengenai kekerasan juga bisa menjadi faktor. Karena itu, orang tua harus membimbing anak dengan tepat agar mereka tidak terpengaruh hal-hal buruk yang bisa membuat mereka menjadi seorang perundung.

2. Mencari Perhatian

Anak-anak yang sering menindas orang lain cenderung memiliki tingkat empati yang rendah sehingga mereka tidak peduli akan penderitaan orang lain. Selain itu keadaan keluarga yang kurang harmonis, atau kurangnya perhatian dari orang tua, bisa menjadi penyebab seseorang merundung orang lain demi mencari perhatian orang lain.

3. Dorongan Lingkungan

Anak-anak yang populer di sekolah lebih cenderung mengolok-olok, memerintah dan mengontrol anak yang kurang populer. Tekanan untuk menjadi populer, juga menjadi alasan mengapa anak-anak melakukan perundungan guna mencari perhatian. 

4. Pernah Menjadi Korban Bully

Seseorang yang pernah menjadi korban bully ternyata juga bisa memiliki kecenderungan untuk merundung orang lain. Itu mereka lakukan untuk membalaskan denda atas apa yang mereka rasakan di masa lalu. Sekaligus untuk menjaga diri agar tidak kembali menjadi korban bully. Sayangnya, mereka tidak sadar jika mereka memberikan rasa sakit yang sama kepada orang lain seperti yang dulu mereka rasakan.

5. Menjadi Korban Perundungan Saudara

Seseorang yang mengalami perundungan dari saudaranya sendiri bisa mempengaruhi cara mereka memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Mereka cenderung melampiaskannya kepada orang lain di luar rumah, karena saat di rumah mereka merasa tidak memiliki kekuatan.

6. Rasa Cemburu

Rasa cemburu atas pencapaian orang lain, cemburu karena seseorang lebih pintar atau rupawan bisa menjadi penyebab seseorang melakukan intimidasi. Misalnya seorang anak merasa cemburu karena temannya lebih pintar, dia bisa melakukan perundungan dengan merobek atau membuang buku yang berisikan pekerjaan rumah temannya tersebut.

Ada banyak lagi hal yang menjadi penyebab bullying. Karena itu penting bagi orang tua dan orang dewasa untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak untuk menerima perbedaan dan jangan pernah merasa lebih tinggi dari orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *